Ada beberapa teori mengenai gaya
angkat pada sayap pesawat terbang. Teori-teori tersebut antara lain teori
Skipping Stone, teori Ventury dan teori Longer Path/Equal Transit. Dari teori
tersebut yang sangat populer adalah teori "Longer Path/Equal Transit"
yang diyakini kebenarannya dan dipakai di sekolah-sekolah, bahkan di sekolah
penerbang utk menjelaskan fenomena gaya angkat pada sayap pesawat. Tapi
ternyata para ahli masih memperdebatkan kebenaran teori-teori tersebut.
Pihak Nasa
dalam website-nya juga mengulas teori-teori tersebut dan cenderung
menganggap teori-teori tersebut salah. Nasa sendiri menyebutkan teori "Lift
from Flow Turning" merupakan teori yang benar. Tapi benarkah tidak ada
kemungkinan penjelasan lain yang dapat menjelaskan mengenai adanya fenomena
gaya angkat pada sayap pesawat? Saya akan mencoba belajar memahami adanya
fenomena gaya angkat pada sayap pesawat dari sisi lain.
Benda bergerak dengan
kecepatan tinggi melintasi lapisan udara :
Molekul udara di depan benda tersebut terpisah ke
samping kiri, kanan, atas dan bawah benda. Setelah dilewati benda tsb, udara
berusaha kembali ke tempat semula membentuk kerapatan udara seperti sebelum
dilintasi benda tersebut di belakang lintasan benda. Tapi karena udara mempunyai
sifat kelembaman/inersia, maka udara tersebut membutuhkan waktu untuk kembali
mengisi ruang yang ditinggalkannya dan membentuk kerapatan sesuai kerapatan
sebelumnya. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya ruang/kolom udara dengan
tekanan rendah secara sesaat karena kerapatan udara kecil (belum kembali ke
kerapatan semula).

Lift pesawat karena
adanya kelembaman/inersia udara.
Bila airfoil melintas pada lapisan udara, maka molekul
udara akan terpisah di depan leading edge dan mengalir melalui bagian atas dan
bawah airfoil menuju trailing edge. Karena adanya kelembaman/inersia udara,
maka udara yang melewati bagian atas airfoil tidak segera kembali seluruhnya
untuk mengisi ruang yang ditinggalkan dan membentuk kerapatan awal seperti sebelum dilewati airfoil. Hal ini
mengakibatkan terjadi kolom udara dengan kerapatan rendah, sehingga terjadi
udara bertekanan rendah di atas airfoil tersebut. Semakin tinggi kecepatan
airfoil, maka kolom udara bertekanan rendah di atas airfoil tersebut semakin
besar serta tekanan yang semakin kecil. Karena tekanan udara di atas airfoil
lebih rendah dari tekanan udara di bawah airfoil, maka terjadi gaya angkat pada
airfoil tersebut.

Airfoil dengan angle of
attact tinggi
Untuk bagian atas air foil, penjelasan sama dg air foil
dg AoA rendah. Hanya bedanya bila AoA tinggi, maka tekanan udara di atas air
foil yang dihasilkan akan lebih rendah, sehingga gaya angkat lebih besar.
(catatan : sebelum terjadi turbulensi yg berakibat meningkatnya drag)
Untuk bagian bawah airfoil, udara yg mengalir dari depan yang dilintasi air foil tidak segera/secara cepat meninggalkan ruang tersebut (karena adanya kelembaman/inersia udara) sehingga kerapatan udara di bagian bawah airfoil tinggi dan tekanan udara tinggi.
Dengan tekanan udara di atas airfoil yg bertambah rendah, ditambah tekanan udara di bawah airfoil bertambah tinggi, maka gaya angkat pada sayap pesawat dengan AoA tinggi akan bertambah besar. (sebelum terjadi stall)

Untuk bagian bawah airfoil, udara yg mengalir dari depan yang dilintasi air foil tidak segera/secara cepat meninggalkan ruang tersebut (karena adanya kelembaman/inersia udara) sehingga kerapatan udara di bagian bawah airfoil tinggi dan tekanan udara tinggi.
Dengan tekanan udara di atas airfoil yg bertambah rendah, ditambah tekanan udara di bawah airfoil bertambah tinggi, maka gaya angkat pada sayap pesawat dengan AoA tinggi akan bertambah besar. (sebelum terjadi stall)
Airfoil datar
Pada bagian atas air foil, udara yang dilintasi airfoil tidak segera/dengan
cepat diisi oleh udara di atasnya (karena kelembaman/inersia udara) sehingga
kerapatan udara di atas airfoil rendah dan tekanan udara rendah.
Untuk bagian bawah airfoil, udara yg mengalir dari depan yang dilintasi air foil tidak segera/secara cepat meninggalkan ruang tersebut (karena adanya kelembaman/inersia udara) sehingga kerapatan udara di bagian bawah airfoil tinggi dan tekanan udara tinggi.
Dengan tekanan udara di atas airfoil yg rendah dan di bawah airfoil tinggi, maka timbul gaya angkat pada sayap.

Untuk bagian bawah airfoil, udara yg mengalir dari depan yang dilintasi air foil tidak segera/secara cepat meninggalkan ruang tersebut (karena adanya kelembaman/inersia udara) sehingga kerapatan udara di bagian bawah airfoil tinggi dan tekanan udara tinggi.
Dengan tekanan udara di atas airfoil yg rendah dan di bawah airfoil tinggi, maka timbul gaya angkat pada sayap.
Gaya angkat (lift) pada bola yg
berputar (Spinning Ball)
Pada permukaan bola yg berputar (menurut arah anak panah) terjagi friksi antara
aliran udara dg permukaan bola di bagian depan bola, shg partikel udara
terseret ke atas oleh perputaran bola. Kemudian partikel udara terlepas
(terlempar) dari pengaruh friksi dg permukaan bola. Karena kelembaman (inersia)
udara, maka udara tdk segera mengisi ruang yg ditinggalkan, sehingga kerapatan
(densitas/viskositas) udara rendah dan tekanan udara rendah. Akibatnya bola
terangkat ke atas (lift).
Demikian pendapat saya mengenai penjelasan timbulnya gaya angkat (lift) pada sayap pesawat. Semoga bisa menjadi sudut pandang lain dalam menguraikan timbulnya lift tersebut dan menjadi bahan diskusi yang bermanfaat.

Demikian pendapat saya mengenai penjelasan timbulnya gaya angkat (lift) pada sayap pesawat. Semoga bisa menjadi sudut pandang lain dalam menguraikan timbulnya lift tersebut dan menjadi bahan diskusi yang bermanfaat.
(Gatot Sudewo, ST.)
Saya pernah baca di blog lain, ternyata ini sumbernya. Terimakasih pak Gatot.
BalasHapusTerimakasih kembali.
HapusAda beberapa hal yg tidak dipertimbangkan dalam teori-2 "lift" yg kita kenal. Padahal ternyata bisa dijelaskan dengan lebih sederhana seperti pendapat saya di atas.